Minggu, 01 Mei 2011

Laporan Praktikum IPN 5 Aktivitas Enzim (Ivan Noveanto)


Laporan Praktikum Ke: 5 (lima)                   Hari/Tanggal: Senin/ 28 Maret 2011
Integrasi Proses Nutrisi                                  Tempat Praktikum:Lab. Fisiologi (BFM)
                                                                       Nama Asisten: Fatma Sari


AKTIVITAS ENZIM

Ivan Noveanto
D24090041


DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Enzim  sangat penting dalam kehidupan, karena semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi  metabolisme sel akan terhambat sehingga pertumbuhan sel juga terganggu. Enzim mengatur kecepatan dan kekhususan ribuan reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel. Walaupun enzim dibuat di dalam sel, tetapi untuk bertindak sebagai katalis tidak harus berada di dalam sel. Reaksi yang dikendalikan oleh enzim antara lain ialah respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, kontraksi otot, fotosintesis, fiksasi, nitrogen, dan pencernaan. Secara garis besar sumber enzim dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu hewan, tanaman dan mikroba.
Aktivitas enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu; pH dan keasaman; konsentrasi substrat, enzim, dan kofaktor; inhibitor enzim; serta toksik enzim. Karena enzim adalah protein, maka enzim dalam pakan yang rentan terdenaturasi atau rusak oleh enzim pencernaan atau sesuatu yang dapat mengubah struktur enzim terutama suhu panas. Umumnya enzim mengalami denaturasi pada suhu diatas 50oC. Walaupun demikian ada beberapa enzim yang tahan terhadap suhu tinggi, misalnya taka-diastase dan tripsin.
Salah satu enzim yang akan dibahas dalam praktikum kali ini adalah enzim urease. Enzim urease merupakan enzim yang menguraikan urea menjadi ammonia dan karbondioksida. Peran utama urease adalah menyediakan energi internal dan eksternal bagi organisme untuk menggunakan urea atau hidroksiurea sebagai sumber nitrogen. Faktor yang mempengaruhi aktivitas urease adalah konsentrasi, suhu, dan pH. Aktivitas urease meningkat sebanding dengan peningkatan suhu.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan suhu dan lama perlakuan suhu terhadap aktivitas enzim urease dalam mengkatalis reaksi kimia.


TINJAUAN PUSTAKA
Enzim
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organik. Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain yang disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang disebut promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon sebagai promoter (Gaman dan Sherrington, 1992).
Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa intermediet melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama. Enzim bekerja di dalam sel dan hanya sebagian kecil yang bekerja di luar sel. Enzim yang bekerja di dalam sel disebut enzim intraseluler, misalnya enzim katalase yang berfungsi memecah senyawa-senyawa berbahaya. Sementara enzim yang bekerja di luar sel, disebut enzim ekstraseluler. Enzim-enzim tersebut mengendalikan reaksi biokimia, seperti respirasi, pertumbuhan, perkecambahan, fotosintesis, pencernaan, dan lain-lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi enzim antara lain: suhu; pH atau keasaman; konsentrasi enzim, substrat, dan keasaman; dan inhibitor enzim.
Jenis Enzim dan Aktivitasnya
Ada beberapa jenis enzim yang dikenal, di antaranya sebagai berikut.
1. Hidrolase
Hidrolase adalah enzim yang memerlukan bantuan air dalam proses menguraikan zat. Enzim ini bisa dikelompokkan menjadi beberapa jenis.
a. Karbohidrase adalah enzim yang menguraikan karbohidrat, misalnya:
  • enzim amilase yang menguraikan amilum menjadi maltose,
  • enzim maltase yang menguraikan maltosa menjadi glukosa,
  • enzim ukrase yang mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa,
  • enzim laktase yang mengubah laktase menjadi glukosa dan galaktosa,
  • enzim selulase yang menguraikan selulosa menjadi selobiosa, dan
  • enzim pektinase yang menguraikan pektin menjadi asam-pektin.
b. Esterase adalah golongan enzim yang berfungsi memecah ester:
  • enzim lipase yang menguraikan lemak menjadi asam lemak, dan
  • enzim fosfatase yang menguraikan ester menjadi asam fosfat.
c. Protease adalah enzim yang berfungsi menguraikan protein, misalnya:
  • enzim peptidase yang menguraikan peptida menjadi asam amino,
  • enzim gelatinase yang berfungsi menguraikan gelatin, dan
  • enzim renin yang berfungsi menguraikan kasein susu.
2. Oksidase dan Reduktase
Oksidase dan reduktase adalah enzim yang berperan aktif membantu proses oksidasi dan reduksi. Enzim ini bisa dikelompokkan menjadi dua.
  • Dehidrogenase adalah enzim yang mengubah zat-zat organik menjadi hasil-hasil oksidasi.
  • Katalase adalah enzim yang menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen.
3. Desmolase
Desmolase adalah enzim yang memutuskan ikatan C-C, C-N, dan dapat dikelompokkan menjadi dua.
  • Karboksilase, adalah enzim yang mengubah asam piruyat menjadi asetaldehida.
  • Transaminase adalah enzim yang mengubah amine menjadi asam amino.
(Montgomery, 1993).

Kontrol Aktivitas Enzim
Untuk mencapai keadaan transisi dan berubah menjadi produk, substrat memerlukan tenaga yang sangat besar. Tanpa campur tangan enzim, proses tersebut memakan waktu yang sangat lama. Enzim menangkap substrat dan menekan energi aktivasi sehingga mempercepat reaksi kimia dalam sel.
Dalam aktivitasnya, enzim menciptakan lingkungan dengan transisi terstabilisasi, terdistribusi muatan berlawanan, membentuk lintasan alternatif, dan menggiring substrat pada orientasi yang tepat untuk bereaksi. Untuk mencapai aktivitas optimal, beberapa enzim bekerja sendiri dan sebagian lagi memerlukan komponen tambahan berupa molekul nonprotein yang disebut kofaktor. Bentuknya bisa berupa gugus prostetik yang mengikat kuat atau berupa koenzim melepaskan diri saat reaksi kimia terjadi.
Dalam satu detik, melakukan reaksi hingga jutaan kali supaya bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Reaksi tersebut dipengaruhi oleh temperatur, asam basa, kadar garam, dan inhibitor, yaitu senyawa kompetitif yang menghalangi pengikatan substrat oleh enzim.
Aktivitas enzim di dalam tubuh makhluk hidup dikontrol sel dengan cara sebagai berikut.
  1. Produksi enzim dikontrol berkaitan dengan respon sel terhadap lingkungan, dengan cara transkripsi dan translasi gen enzim, dan bentuk regulasinya disebut induksi atau inhibisi. Pada kasus penggunaan penisilin sebagai antibiotik, enzim beta-laktamase menginduksi hidrolis cincin beta-laktam pada penisilin dan membuat bakteri resistan terhadap penisilin.
  2. Membuat lintasan metabolisme beragan dalam kompartemen sel yang berbeda bisa mengkompartemenkan enzim. Misalnya, lintasan majemuk pada sitosol, retikulum endoplasma, dan aparat golgi, sekelompok enzim lainnya dalam mensintesis asam lemak.
  3. Inhibitor dan aktivator meregulasi enzim dengan mekanisme umpan balik untuk efisiensi dalam alokasi zat dan energi dan menghindari pembuaran produk secara berlebihan.
  4. Regulasi enzim juga dapat dilakukan melalui modifikasi pascatranslasional, meliputi fosforilasi, miristoilasi, dan glikosilasi. Contohnya, polipeptida yang melakukan pembelahan rantai.
  5. Regulasi juga dipengaruhi oleh beberapa enzim yang teraktivasi saat beradap di lingkungan lain.
Kontrol aktivitas tersebut diperlukan untuk menjaga homeostasis dan malfungsi enzim yang bisa menimbulkan penyakit dan penyimpangan genetika (Hawab et al., 1989).
Rumen
Ruminansia mempunyai lambung-lambung yang besar, yaitu abomasum, dan lambung muka yang membesar yang mempunyai tiga ruangan, yaitu rumen, retikulum, dan omasum (Arora, 1989). Ruminansia mampu mencerna serat dengan baik. Hal ini dikarenakan ternak ruminansia memiliki saluran pencernaan yang kompleks yang mampu mencerna hijauan (Williamson dan Payne, 1993). Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mempunyai temperatur 38 – 42oC. Saliva yang masuk ke dalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8 (Arora, 1989).
Dari empat bagian perut tersebut, rumen merupakan bagian perut yang terbesar dengan berbagai kantong yang menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Pencernaan fermentatif makanan oleh mikroba rumen akan berlangsung baik apabila didukung oleh kondisi yang sesuai untuk kehidupan mikroba.
Di dalam rumen ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri sekitar 10 pangkat 9 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi sekitar 10 pangkat 5 - 10 pangkat 6 setiap cc isi rumen (Sutardi, 1977). Beberapa jenis bakteri/mikroba yang terdapat dalam isi rumen adalah (a) bakteri/mikroba lipolitik, (b) bakteri/mikroba pembentuk asam, (c) bakteri/mikroba amilolitik, (d) bakteri/mikroba selulolitik, (e) bakteri/mikroba proteolitik.
Kacang-kacangan
Kacang-kacangan salah satu sumber protein nabati. Jenis kacang yang dipakai adalah kacang hijau, kacang tanah, dan kacang kedelai.
Kacang hijau
Kacang hijau mempunyai komposisi zat gizi per 100 gram bahan mentah : energi (323 kal), air (15,5 gr), protein (22,99%), lemak (1,5 gr), karbohidrat (56,80 gram), serat (7,5 gram), abu (3,3 gram), kalsium (223 gram), fosfor (319 gram), besi (7,5 mg), vitamin B1 (0,46 mg), vitamin C ( 10 mg), karoten total (223 mkg) (Slamet dan Tarwotjo, 1980).
Protein kacang hijau mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan manusia. Kekurangan pada kacang hijau adalah terletak pada kandungan metionin dan sistin, tetapi mempunyai kandungan leusin, lisin, isoleosin, dan trptophan yang cukup tinggi (Patty, Jacob Richard. 1994)
Kacang tanah
Kacang tanah memiliki kandungan lemak 44,6 gr dan kalori 595 kkal lebih tinggi daripada kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, dan kacang merah (Woodrof, 1983).
Menurut Woodrof (1983), pengolahan kacang tanah dengan panas akan memperbaiki aroma, flavour dan tekstur kacang, tetapi akan menurunkan daya tahan komponen minyak karena rusaknya antioksidan alami. Sebagian besar ketengikan yang terjadi pada kacang tanah ini terutama disebabkan minyak yang dikandungnya. Pengeluaran sebagian atau seluruh minyak akan membuat kacang tanah lebih tahan.
Kacang kedelai
Kacang kedelai mengandung protein 37,7 gr ; kalsium 245,5 mg ; fosfor 632,4 mg; besi 8,6 mg ; dan vitamin B1 1,2 mg lebih tinggi dibandingkan dengan kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau. Menurut Somaatmadja (1964) protein kedelai mempunyai sifat khusus yaitu mampu mengikat air, memiliki daya emulsi, pembentuk gel, pembentuk lapisan film, pembentuk adonan, dan pengental.
Kacang kedelai mempunyai rasa langu karena keberadaan enzim lipoksigenase. Enzim ini umumnya terdapat pada bagian lembaga pada kacang-kacangan. Kacang kedelai mempunyai aktivitas enzim lipoksigenase paling aktif daripada kacang tanah, kacang hijau dan kacang merah (Ketaren, 1986). Enzim lipoksigenase mengkatalisa oksida asam lemak tidak jenuh sehingga menjadi tengik dan tidak stabil selama penyimpanan. Kacang kedelai mengandung asam lemak tidak jenuh sebesar 85% (Somaatmadja, 1964). Pembentukan bau terjadi akibat aktivitas enzimatik dari lipoksigenase (Wolf, 1975).
Urea
Urea merupakan salah satu sumber Nitrogen bukan protein yang berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air dan mengandung 45% Nitrogen (Prakkasi,1995). Urea dibuat dengan jalan mereaksikan ammonia dan karbondioksida (Fardiaz, 1992). Urea merupakan sumber amoniak dari senyawa spesifik, kandungan urea yang tinggi akan dirombak menjadi basa menguap oleh aktivitas bakteri. Tingginya kandungan urea akan membentuk sejumlah besar amoniak yang mempengaruhi kenormalan kandungan total volatile basa.Selama penyimpanan, jumlah amoniak yang terbentuk relatif tidak dipengaruhi oleh suhu (Simidu, 1961).
Enzim Urease
Urease merupakan enzim yang menghidrolisis urea menjadi CO2 dan NH3. Reaksinya adalah NH2CONH2 + H2O  → CO2 + 2 NH3. Aktivitas urease meningkat sebanding dengan peningkatan suhu dari 10 – 40° C. Aktivitas urease menjadi sangat tidak aktif apabila tanah  dipanaskan selama 24 jam sehingga suhu mencapai 105° C. Berat molekul enzim urease sebesar 483.000. Suhu 10oC akan mempercepat reaksi dua kali atau tiga kali lebih cepat(Harrow and Mazur, 1954). Urease adalah sebuah protein yang ditemukan dalam bakteri, kapang, dan beberapa tanaman tingkat tinggi. Karakteristiknya yaitu pH optimum 7,4 suhu optimum 60˚C dengan spesifikasi enzimatis: urea dan hidroksi urea. Beberapa tanaman memanfaatkan urease untuk keperluan yang sama. Urease penting dalam sejarah enzimologi sebagai enzim pertama yang dimurnikan dan dikristalkan (Sumner, 1926).
Urease ditemukan terutama dalam kuantitas besar pada jackbean, kedelai, biji tanaman, pada beberapa jaringan hewan dan pencernaan mikroorganisme. Urease juga ditemukan pada berbagai macam organisme seperti bakteri, jamur, dan tumbuhan tinggi. Urease pada lingkungan berperan dalam jalur sistem transportasi nitrogen (Jabri, 1995). Peran utama urease adalah menyediakan energi internal dan eksternal bagi organisme untuk menggunakan urea atau hidroksiurea sebagai sumber N (Suhartono, 1989).


MATERI DAN METODE
Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah wadah plastik, botol film, waterbath, oven, lemari es, freezer, timbangan analitik kasar, spoit 1 ml, tabung reaksi, stopwatch, dan lain-lain alat yang dibutuhkan. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan urea 2%, tepung kacang (tepung kacang hijau, tepung kacang tanah, tepung kacang kedelai sangrai), dan cairan rumen.
Metode
1.    Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim pada kacang kedelai
Tepung kacang kedelai diambil 1 sendok kecil yang diasumsikan dengan 1 gram, masukkan ke dalam masing-masing 5 botol film, (untuk suhu 750C digunakan tabung reaksi), kemudian ditutup dan dibiarkan selama 15 menit pada suhu 00C (pada freezer), 40C (pada lemari es), 250C (pada ruangan), 500C (pada oven), dan 750C (pada waterbath). Ambil 2 ml urea 2% dengan menggunakan spoit dan dimasukkan ke dalam botol film dan tabung reaksi yang lain kemudian tutup dan dibiarkan pada suhu yang sama. Setelah 15 menit tepung kacang kedelai dicampurkan dengan urea 2%. Setiap 0, 5, 10, 15 menit dicium bau dari campuran tersebut dan dicatat hasilnya.
2.    Pengaruh substrat terhadap aktivitas enzim pada suhu normal (250C)
Ambil 2 ml cairan rumen dan diambil 1 sendok kecil yang diasumsikan dengan 1 gram masing-masing kacang hijau, kacang tanah, dan kacang kedelai sangrai kemudian dimasukkan ke dalam tabung film yang terpisah dan simpan pada suhu ruang selama 15 menit. Ambil 2 ml urea 2% dengan menggunakan spoit dan dimasukkan ke dalam botol film yang lain kemudian ditutup dan dibiarkan pada suhu yang sama. Setelah 15 menit dicampurkan kedua bahan tersebut. Setiap 0, 5, 10, 15 menit dicium bau dari campuran tersebut dan dicatat hasilnya.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim pada kacang kedelai
W(s)/T(oC)
0 oC
4 oC
25 oC
50 oC
75 oC
0
-
-
-
+
-
5
+
+
+
++
+
10
++
++
++
+++
++
15
+++
+++
+++
+++
+++

Tabel 2. Pengaruh substrat terhadap aktivitas enzim pada suhu normal (250C)
Sampel/ T
I
II
III
Rata-rata
Kacang Hijau
+
+

+
Kacang Tanah
+
+
+
+
Kacang Kedelai sangrai
-
-
-
-
Cairan Rumen
+
+
+
+

Keterangan :
-                 : tidak berbau
+                : sedikit berbau
++              : berbau
+++           : menyengat
Grafik 1. Pengaruh suhu dan waktu terhadap aktivitas enzim pada kacang kedelai
Pembahasan
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organik. Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa intermediet melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama.
Dalam praktikum ini, enzim yang digunakan adalah enzim urease. Enzim urease merupakan enzim yang menguraikan urea menjadi ammonia dan karbondioksida. Peran utama urease adalah menyediakan energi internal dan eksternal bagi organisme untuk menggunakan urea atau hidroksiurea sebagai sumber nitrogen. Karakteristik enzim urease yaitu pH optimum 7,4 suhu optimum 640C dengan spesifikasi enzimatis urea dan hidroksi urea. Bau ammonia menjadi indikator adanya aktivitas enzim urease dalam percobaan aktivitas enzim.
Pada percobaan aktivitas enzim yang pertama dilakukan pengujian bahan tepung kacang kedelai dengan suhu dan waktu yang berbeda. Kacang kedelai mempunyai rasa langu karena keberdaan enzim lipoksigenase. Enzim ini umumnya terdapat pada bagian lembaga pada kacang–kacangan. Enzim lipoksigenase mengkatalis oksidasi asam lemak tak jenuh sehingga menjadi tengik dan tidak stabil selama penyimpanan. Kacang kedelai mempunyai kandungan asam lemak tak jenuh sebesar 85%. Pada suhu 00C, tepung kacang kedelai menimbulkan bau menyengat setelah 15 menit. Pada suhu 40C, 250C, 500C, dan 750C bau yang tercium dari tepung kacang kedelai semakin lama waktunya bau yang ditimbulkan semakin menyengat. Namun, pada suhu 250C bau yang ditimbulkan pada menit ke-15 sangat menyengat sekali dan perubahan baunya begitu drastis. Pada suhu 750C, bau yang ditimbulkan sangat menyengat.
Dari percobaan pertama terlihat bahwa enzim urease dapat bekerja dengan optimal pada suhu tertentu dan lamanya waktu penyimpanan. Pada pengamatan enzim dapat melakukan kerja dengan optimal pada suhu antara 40C sampai 750C. Hal tersebut membuktikan bahwa semakin bertambahnya suhu maka reaksi enzim urease semakin cepat. Pada suhu 250C terjadi kenaikan bau menyengat yang sangat drastis dapat dikarenakan kesalahan praktikan dalam menentukan bau menyengat dari bahan tepung kedelai tersebut. Sedangkan pada suhu 750C bau yang ditimbulkan lebih menyengat daripada suhu 250C, padahal seharusnya kerja enzim dapat rusak dengan suhu yang tinggi tersebut. Hal ini akan terjawab dengan pengertian bahwa masing-masing enzim hanya dapat bereaksi pada pH dan temperatur tertentu, dimana dalam literatur yang ada menyebutkan bahwa enzim urease ini optimum pada pH 7,4 dengan suhu optimum 60˚C. Hasil ini tidak sesuai dengan literatur yang mengungkapkan bahwa enzim urease akan aktif pada suhu 60˚ C, jika suhu kurang dari 60˚ C enzim tidak akan bereaksi atau dalam keadaan inaktif dan jika suhu lebih dari 60˚ C enzim urease akan mengalami denaturasi.
Pada pengamatan kedua, dilakukan pengamatan pada kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai sangrai, dan cairan rumen. Percobaan tersebut dilakukan pada suhu ruang yaitu 250C dengan ditetesi urea 2% sebanyak 2 ml. Bau yang ditimbulkan sampel bahan tersebut sedikit berbau menyengat. Hal tersebut menunjukkan adanya reaksi enzim yang berlangsung, tetapi kerja yang ditimbulkan sangat lambat. Pada rumen, bau yang tercium lebih menyengat daripada bahan yang lain. Hal tersebut disebabkan karena di dalam rumen dengan  penambahan urea dapat mempercepat aktivitas mikroba. Hal yang berbeda didapatkan pada kacang kedelai sangrai yang tidak didapatkan bau amonia. Padahal menurut literatur menyebutkan bahwa enzim urease pada kacang-kacangan terutama dapat didapatkan yang tinggi pada kacang kedelai. Hal ini dimungkinkan karena sampel kacang kedelai yang dipakai adalah kacang kedelai sangrai, bukan bubuk kacang kedelai murni. Sehingga hasil yang didapat pun berbeda dengan literatur.

KESIMPULAN
Pada suhu 00C, tepung kacang kedelai menimbulkan bau menyengat setelah 15 menit. Pada suhu 40C, 250C, 500C, dan 750C bau yang tercium dari tepung kacang kedelai semakin lama waktunya bau yang ditimbulkan semakin menyengat. Pada suhu 250C bau yang ditimbulkan pada menit ke-15 sangat menyengat sekali dan perubahan baunya begitu drastis. Pada suhu 750C, bau yang ditimbulkan sangat menyengat. Dari pengamatan pengaruh substrat terhadap aktivitas enzim, didapatkan bau yang lebih menyengat pada cairan rumen. Kacang hijau dan kacang tanah pun didapatkan bau amonia, sedangkan pada kacang kedelai sangrai tidak didapatkan bau amonia.

DAFTAR PUSTAKA
Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pengolahan Pangan Lanjut. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Bogor. Institut Pertanian Bogor Press: Bogor.
Gaman, P. M. and K. B Sherington. 1992. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Ir. Murdijati Gardjito, dkk. Yogyakarta: UGM Press.
Harrow, B. And Mazur  A. 1954. Biochemistry. Six Edition. W.B. Saunders Company: Philadelphia and London.
Hawab, et al.1989. Penuntun Praktikum Biokimia Lanjutan. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat IPB Bogor.
Jabri, E. 1995. Urease. (terhubung berkala)www.chom.uwec.edu(2 April 2011).
Ketaren, S. 1986. Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press: Jakarta.
Montgomery et al. 1993. Biokimia Suatu Pendekatan Berorientasi. Kasus, Jilid 7. Edisi keempat. Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
Patty, Jacob Richard. 1994. Tanggap Tiga Varietas Kacang Hijau terhadap Perubahan Kandungan Air Tanah. Tesis. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Prakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi Dan Reaksi Ternak Ruminansia. UI Press: Jakarta.
Simidu, W. 1961. Non Protein. Academic Press: New York.
Slamet DS, Taswotjo. 1980. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya: Jakarta.
Somaatmadja. 1964. Kedelai. Publitbang Tanaman Pangan. IPB Press: Bogor.
Suhartono, M. T. 1989. Enzim dan Bioteknologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor.
Sumner, J.B. 1926. Urease. (terhubung berkala)http://www.britannica.com/eb/article-9074458/urease#7436.hook(2 April 2011).
Sutardi, T. 1977. Ikhtisar Ruminologi Badan Khusus Peternakan Sapi Perah. Kayu Ambon, Lembang. Direktorat Jenderal Peternakan: Lembang.
Williams, G dan W.J.A. Payne. 1983. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University: Yogyakarta.
Wolf, W.J. 1975. Lipoxygenase and Flavor of Soybean Protein Products. J. Agr. Food Chem. 23 : 136-139.
 Woodroof, J., G.1983. Peanut. The AVI Publishing Company, Inc: Westport, Connecticut.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar